—————————–*/

Tuesday, November 8, 2011

Merasa Diri Lebih Baik

Ummat bertanya:
Saya mempunyai permasalahan yang sangat menggangu pikiran. Apabila saya melakukan hal yang lebih baik dari orang lain, dalam hati saya selalu berkata bahwa saya lebih baik dari mereka. Tetapi perkataan itu muncul secara tiba-tiba. Saya juga langsung sadar akan perkataan tersebut. Yang membuat saya tidak mengerti, perkataan itu selalu hadir dalam hati saya, walaupun saya sadar perkataan itu tidak baik. Bagaimana menghilangkan prasangka buruk itu?


Islam menjawab:

Banyak hal yang kita jumpai dalam hidup ini. Berbagai rupa dan watak orang kita temui. Sebagai manusia masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kadang berlaku benar, kadang berlaku salah. Di satu waktu berbuat baik, di waktu lain berbuat maksiat. Begitulah sifat manusia, kadang salah dan lupa. Dan sebaik-baik orang yang salah,sabda Rasulullah saw, adalah yang segera bertaubat.


Selain itu, kebaikkan, keimanan dan ketakwaan yang kita miliki hakikatnya adalah karunia dan rahmat Allah swt. Hidayah adalah milik-Nya, bukan milik kita. Jika Dia mengambilnya, tentu kita akan berada dalam kesesatan yang nyata. Keimanan, amal shalih, dan ketakwaan yang kita lakukan sama sekali tidak dibutuhkan oleh Allah swt. Semua yang kita miliki adalah pemberian Allah swt. Justru kita sendiri yang membutuhkan hal tersebut, agar kita mendapatkan karunia jannah-Nya.


Kita hanya berasal dari tanah. Lahir dari pertemuan dua air yang hina, sperma dan ovum. Setelah itu kita diberi nyawa dan tubuh yang bagus dan rupawan. Kita juga diberikan rezeki harta dan kesehatan. Semuanya bukan milik kita. Semuanya bukan milik kita. Semuanya adalah pemberian Allah swt.


Setelah menyadari hal ini, kita tentu malu untuk merasa diri lebih baik dari orang lain dalam segi kebaikan dan ketakwaan. Boleh jadi kita baik hari ini, namun siapa yang tahu jika kita melakukan kemaksiatan esok hari, wal ‘iyadzul billah.


Suatu ketika,Rasulullah saw bersabda, “Orang yang menjaharkan al-Qur’an seperti orang yang menampakkan sedekah. Orang yang membaca al-Qur’an dengan suara rendah, seperti orang yang bersedekah dengan diam-diam.” (HR Tirmidzi No. 2834. Hadits ini kedudukannya Hasan Gharib). Abu Isa at-Tirmidzi menyatakan, makna hadits ini adalah bahwa orang yang membaca al-Qur’an dengan diam-diam lebih utama daripada membaca al-Qur’an dengan keras, sebab sedekah secara diam-diam lebih utama menurut ulama daripada terang-terangan. Mereka menyebut hikmah dibaliknya, yaitu agar seseorang aman dari rasa takjub (kagum dan bangga terhadap diri sendiri – pen), karena orang yang menyembunyikan amalannya tidak dikhawatirkan jatuh dalam rasa takjub, seperti ketika dilakukan terang-terangan.


Memang, syetan berusaha kuat menggoda ummat manusia untuk berlaku sombong dan merendahkan orang lain. Kita tentu ingat, dikeluarkannya iblis dari surga adalah akibat kesombongannya. Karena itu, hendaknya kita segera berlindung kepada Allah swt dari godaan syetan, ketika perasaan ini muncul. Membaca dzikir, ayat kursi, surah al-ikhlas, al-falaq, an-naas, dan lainnyayang dilakukan dengan sendiri-sendiri dapat membantu kita melepaskan diri dari jeratan syetan tersebut.


Selain itu, hal inimembutuhkan azzam (tekad yang kuat) dan pembisaaan diri yang baik kebisaaan yang buruk bisa musnah jika taubat segera diiringi kebisaaan baik. Seperti kata pepatah, “bisa karena bisaa”. Kita juga perlu sering-sering melihat kebaikan dan sisi positif yang dimiliki oleh orang lain, tanpa perlu memperhatikan kekurangan dan kesalahannya. Jika kita dapat menasehatinya, tentu hal tersebut lebih baik. Namun jika tidak, minimal kita tidak terpengaruh oleh keburukanya. Perlu diingat, setiap orang bisa berubah ke arah yang lebih positif. Setiap orang menyimpan sisi-sisi positif dalam dirinya. Sisi inilah yang perlu digali dan ditumbuhkembangkan.


Prasangka buruk terhadap saudara semuslim adalah perbuatan dosa. Allah swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah sebagian dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (QS al-Hujurat: 12)


Rasulullah saw bersabda,” jauhilah perbuatan sangka, karena sesungguhnya persangkaan (buruk itu) adalah perkataan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain, janganlah kalian saling berdengki, saling berpaling dan saling marah. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Bukhari, Kitab Adab, No.5604). Hal ini hendaknya kita camkan baik-baik, betapa buruknya sifat buruk sangka.

Selain itu, sifat ini dapat memancing pada kemungkaran lainnya, seperti ghibah, mencari kesalahan orang lain, fitnah dan lainnya. Boleh jadi hal ini berujung permusuhan dan peperangan antar individu atau kelompok.


Buruk sangka juga bisa merusuk mental dan kejiwaan kita. Syetan terus menghembuskan perasaan was-was dan curiga terhadap orang lain. Jangankan mendapat untung, kita sendiri yang mendapat akibatnya. Semoga Allah memberikan hidayah dan menjauhkan kita dari sifat tercela ini. Amin. Wallahu a’lam.





No comments:

Post a Comment